Tampilkan postingan dengan label Jeda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jeda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Agustus 2009

Saudara Kembar

Dalam adat istiadat Jawa, ari-ari (plasenta) bayi baru lahir biasanya dipendam di tanah di samping kanan pintu masuk rumah, kemudian diberi penerangan dengan lampu setiap malam selama selapan (35 hari). Hal itu dilakukan karena ari-ari dipercaya sebagai saudara kembar jabang bayi.


Ketika saya bertugas melakukan survei di titik-titik sepanjang Sungai Bengawan Solo, saya menemukan budaya masyarakat yang menarik. Saya bertemu serombongan orang yang berjalan beriringan menuju pinggiran sungai.Di dalam rombongan itu, terdapat seorang perempuan muda yang menggendong sesuatu.

Para pengiringnya mengantarkan perempuan itu dengan menggunakan perahu kayu ke tengah sungai. Begitu sampai di tengah sungai, perempuan itu mengeluarkan sesuatu dari gendongannya, yang ternyata adalah sebuah kendil (periuk) dari tanah. Kendil itu diletakkan dengan sangat hati-hati di permukaan air dan dibiarkan hanyut terbawa arus tanpa tenggelam.

Rupanya itu adalah tradisi labuh ari-ari. Mereka sengaja tidak memendam ari-ari di depan rumah tetapi melabuhnya disungai. Alasannya, kalau ari-ari dipendam dan suatu saat mereka harus pindah rumah, mereka harus membawa tanah tempat ari-ari itu dipendam, lalu tanah itu harus disebarkan di rumah baru. Tentu merepotkan

Lain halnya kalau mereka melabuhkan ari-ari. Ari-ari yang dilabuh akan hanyut sampai ke laut. Tugas menjaga “saudara kembar” pun selesai sampai disitu. Jika mereka harus pindah rumah, mereka tidak perlu membawa tanah tempat ari-ari pendam. Tampaknya ini terkait dengan kondisi sosisal geografis mereka, tinggal di pinggir Bengawan Solo yang sewaktu-waktu harus pindah rumah


Continue Reading...

Burung Pun Tahu Balas Budi

Kakek Romo, kakek saya yang sehari-hari bekerja sebagai petani, tergolong unik. Wajahnya terlihat sangar dan selalu serius saat berbicara. Namun dibalik keangkerannya itu, beliau adalah seorang penyayang binatang. Ia sering membeli burung yang dijual anak kampung, bukan untuk dipelihara tetapi untuk dilepaskan kembali ke alam bebas.

Suatu hari, Kakek Romo bertemu seseorang yang membawa satu sangkar besar berisi puluhan burung jalak. Saking banyaknya, suara burung itu riuh rendah, ramai sekali. Kata si penjual, burung-burung itu ditangkap menggunakan jaring yang dipasang di kebun tebu milik pabrik gula di Trangkil, Pati, Jawa Tengah
Kakek Romo, langsung membeli semua burung itu. Sampai-sampai si penjual terbengong-bengong akibatnya. Apalagi ketika ia tahu Kakek Romo ternyata bermaksud melepasnya.
Begitu selesai membayar, Kakek Romo membuka sangkar burung yang besar itu lebar-lebar. "Bebaslah kalian, bernyanyilah di alam bebas!". Katanya sambil membiarkan burung-burung jalak itu berebutan keluar dari sangkar.
Beberapa bulan kemudian setelah kejadian itu, sawah ladang di desa kami diserang hama ulat. Semua kacang yang ditanam penduduk desa ludes dimakan ulat. Yang aneh, tanaman kakek seperti tidak terjamah ulat sama sekali. Ketika semua petani mengeluh tidak bisa panen, Kakek Romo panen besar.
Rupanya keanehan ini masih ada hubungannya dengan burung jalak. Ladang kakek bisa terbebas dari ulat karena tiap hari sekawanan burung jalak "Menjaga" kacang di ladang itu. Mereka memakan ulat-ulat yang menjadi hama di ladang kakek. Ah, rupanya burung jalak pun bisa membalas budi

Continue Reading...